LIS Info

Berita

FREEHTML5.co Free HTML5 Template

Kuliah Tamu: Filsafat Kepustakawanan dan Peluang Pustakawan di Era 4.0

2021-04-21

Prodi Perpustakaan dan Ilmu Informasi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar kuliah tamu melalu aplikasi zoom meeting. Senin, (19/04). Hadir dalam kegiatan itu Blasius Sudarsono, MLS Pustakawan Utama PDII-LIPI sekaligus Pembelajar Kappa Sigma Kappa Indonesia (KSKI). Sedangkan dosen tamu kedua adalah Dr. Drs. H. Moch. Fauzie Said, M.SI, Asesor BAN-PT dan Pakar Politik Kebijakan Publik sekaligus Dosen Politik Universitas Brawijaya. Acara yang dipandu oleh Rossy Fadilatul Ilmi tersebut cukup menyita atensi mahasiswa yang hadir dalam aplikasi itu, dalam pemaparannya Sudarsono memberikan pemahaman perihal Filsafat Kepustakawanan yang menjadi akar dari ilmu perpustakaan. Bahwasannya poin penting dalam mendalami dan mempelajari ilmu perpustakaan ialah dengan memahami, menghayati, dan mencerna maksa kepustakawanan. “Sebab kepustakawanan secara istilah memiliki arti penerapan pengetahuan,” katanya. Sudarsono memiliki pandangan unik terhadap penghayatan akan makna kepustakawanan, pustakawan, pustaka, dan perpustakaan yang merupakan suatu satu kesatuan utuh dalam ilmu perpustakaan. Pemaparannya dijelaskan dalam Falsafah Kepustakawanan yang menjadi pandangan hidup tentang Perpustakaan. Mencakup kemauan, kemampuan, dan penghargaan seorang pustakawan. Ia menekankan kepustakawanan merupakan karakter ideal pustakawan sekaligus juga bisa menjadi akar ilmu perpustakaan yang tidak dapat tergantikan. Serta puncak yang menjadi tujuan dari pustakawan. “Ilmu perpustakaan tidak saya anggap semata-mata sebagai ilmu saja, namun sudah menjadi sebuah seni dan sains,” ujar Sudarsono. Pandangannya terhadap falsafah kepustawanan tersebut menghasilkan pemikiran-pemikiran kritis dan logis terhadap pandangan dan penghayatan terhadap hakikat ilmu perpustakaan. Ilmu perpustakaan yang dikenal sebagai tonggak berkembangnya ilmu-ilmu lain juga turut andil terhadap lagirnya generasi cerdas bangsa. Pustakawan Sejati Pada dasarnya, lanjut Sudarsono Perpustakaan ialah kepustakawanannya, yang mampu menjadi profesi umum bahkan diluar bidang perpustakaannya itu sendiri. Oleh karena itu, seorang pustakawan sejati harus mampu menyatu di tengah masyarakat untuk melakukan perannya secara tepat dalam menyampaikan literasi. Sudarsono menambahkan agar dapat menjadi pustakawan, ideal diperlukan kriteria yang kreatif dan inovatif, berdasar pada kebenaran data serta kaya intelektual. Selain itu, terdapat empat pilar penyangga benih kepustakawanan yang mana seorang pustakawan yang ideal harus menyadari bahwa kepustakawanan menjadi panggilan hidup, semangat hidup, karya pelayanan, dan kegiatan profesional yang seimbang. Jika mengacu pada UU nomor 43 tahun 2007, disana jelas termaktub bahwa perpustakaan memiliki fungsi sebagai pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi. “Pun dengan sendirinya kemampuan dalam melaksanakan lima fungsi tersebut harus dimiliki calon pustakawan,” jelasnya. Meski tidak dipungkiri profesi pustakawan bukan semata-mata pekerjaan yang hanya bergelut dengan buku saja. Namun labih dari itu profesi ini merupakan penguasaan bidang yang melampaui hal dari seorang pustakawan itu Sendiri. Nantinya setelah terjun di dunia kepustakawanan, maka kita akan labih jelas terhadap arti dari seluk beluk perpustakaan. Pun begitu hingga saat ini pandangan orang awam terhadap profesi pustakawan masih dianggap sebelah mata namun tidak dapat dipungkiri bahwa profesional pustakawan yang ideal sangat dibutuhkan sebagai penggerak literasi. “Kita harus menggaungkan bahwa kita bangga menjadi pustakawan,” katanya. Tenaga Profesional Sementara itu Dr. Drs. H. Moch Fauzie Said selaku Asesor BAN-PT dan Pakar Politik Kebijakan Publik sekaligus Dosen Politik Universitas Brawijaya turut memberikan pemaparan yang tak kalah menarik perihal Leadership Pada Perpustakaan dan Lembaga Informasi di Era Revolusi Industri 4.0 ditinjau dari Perspektif Kebijakan Publik. Topik itu dipaparkan oleh Fauzie melalui sudut pandang birokrasi terhadap penanganan perpustakaan. Muncul berbagai perspektif pada pembahasan ini, bahwa kelanjutan dari kinerja prima yang dibutuhkan oleh pustakawan juga bergantung pada kebijakan birokrasi terkait. Pada konteks ini, pembicaraan terhadap pemimpin yang memberikan keputusan akan jalannya tata kelola perpustakaan mengambil andil penting. “Pemimpin memiliki peran penting dalam menghadirkan pelayanan publik prima yang diidam-idamkan terutama pada pengelolaan perpustakaan,” ujar Fauzie. Urgensi leadirship di lembaga perpustakaan, salah satunya berdampak pada pengangkatan tenaga profesional perpustakaan yang kurang kompeten karena berasal dari luar studi jurusan perpustakaan. Fauzie menambahkan, bahwa hingga saat ini masih banyak staf perpustakaan yang berasal dari luar jurusan perpustakaan. Hal itu sering terjadi dan masih banyak ditemui karena kebijakan dari seorang pemimpin yang kurang matang dan terlalu asal apabila menyangkut perpustakaan. “Sehingga kurang mempertimbangkan potensi pentingnya pustakawan yang ideal,” tambahnya. Pada forum virtual itu Fauzie Said menjabarkan arti pentingnya pelayanan publik pada sistem pemerintahan, juga dapat diterapkan pada bidang perpustakaan. Ia mengenalkan istilah Citizen Charter yang sejalan dengan Good Governance dan demokrasi. Sebab seorang pemimpin pustakawan harus bisa membentuk SDM pustakawan ideal yang mampu memberikan pelayanan responsif kepada masyarakat sebagai pengguna jasa layanan. “Ini sekaligus menempatkan kepentingan masyarakat (publik) diatas segalanya,” pungkasnya. (Ferika Sandra)