LIS UIN Maliki Malang – (16/04/2026) Suasana kelas Literasi Anak di Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi, berlangsung tenang namun penuh makna. Mahasiswa mengikuti kegiatan silent reading sebagai bagian dari proses pembelajaran yang dirancang untuk memperkuat pemahaman literasi secara mendalam.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa membaca secara mandiri buku berjudul The Read-Aloud Handbook (Jim Trelease). Setelah sesi membaca, kegiatan dilanjutkan dengan analisis isi buku yang menekankan pentingnya membangun budaya membaca sejak dini, khususnya melalui praktik membaca nyaring (read-aloud).
Dosen pengampu, Nita Siti Mudawammah, menjelaskan bahwa metode silent reading memberikan ruang bagi mahasiswa untuk benar-benar terlibat dengan teks. “Membaca bukan hanya memahami isi, tetapi juga menangkap pesan, nilai, dan strategi yang bisa diterapkan dalam praktik literasi,” ungkapnya.
Diskusi yang berlangsung setelah sesi membaca menjadi ruang refleksi sekaligus analisis kritis. Mahasiswa diminta mengkaji beberapa chapter penting, seperti Mengapa Membacakan Nyaring? Kapan Memulai dan Mengakhiri? Tahapan Membacakan Nyaring? serta Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa: Mahasiswa mengidentifikasi bahwa gagasan utama dalam chapter yang dibaca menekankan pentingnya membacakan nyaring sebagai fondasi perkembangan literasi anak. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara anak dan orang dewasa.
Bagian yang dianggap paling penting adalah pembahasan tentang alasan mengapa membacakan nyaring perlu dilakukan sejak dini. Mahasiswa menilai bahwa penjelasan tersebut memberikan dasar ilmiah sekaligus praktis, sehingga memperkuat urgensi penerapan metode ini dalam kehidupan sehari-hari.
Terkait penerapannya di Indonesia, mayoritas mahasiswa menilai bahwa konsep ini sangat relevan. Meskipun terdapat perbedaan latar budaya dan kebiasaan membaca, pendekatan membaca nyaring tetap dapat diadaptasi dengan memilih bahan bacaan yang sesuai dengan konteks lokal.
Dari sisi implementasi, mahasiswa mengemukakan berbagai strategi. Jika berperan sebagai orang tua atau pustakawan, mereka akan menyediakan waktu khusus untuk membaca bersama anak, memilih buku yang menarik dan sesuai usia, serta menciptakan suasana membaca yang menyenangkan dan interaktif. Sebagian besar mahasiswa juga menyatakan setuju dengan gagasan yang disampaikan dalam buku. Mereka menilai bahwa konsep yang ditawarkan tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dan berdampak nyata dalam meningkatkan minat baca anak.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar memahami isi buku, tetapi juga mengasah kemampuan analisis dan refleksi. Pendekatan pembelajaran yang aktif dan kontekstual ini diharapkan mampu membekali mahasiswa sebagai calon pustakawan yang adaptif serta berkontribusi dalam pengembangan budaya literasi di masyarakat.-gcp-





