Rangkaian kegiatan LITERA 2026 Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (PSI), Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga menghadirkan materi mengenai literasi Artificial Intelligence (AI) yang disampaikan oleh Bapak Dedy Dwi Putra, M.Hum. Materi tersebut memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai pentingnya memiliki kemampuan literasi AI di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin dekat dengan berbagai aspek kehidupan.
Dalam pemaparannya, Dedy menjelaskan bahwa literasi AI bukan sekadar kemampuan dalam menggunakan teknologi AI, tetapi merupakan kemampuan untuk memahami, menilai, berinteraksi, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh dari teknologi AI secara tepat dan bertanggung jawab.
Mahasiswa diajak untuk memahami prinsip-prinsip dasar AI sekaligus mengenali berbagai penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman tersebut menjadi penting agar mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu melihat bagaimana AI bekerja, apa manfaatnya, serta apa saja keterbatasan yang perlu diperhatikan.
Selain kemampuan teknis, materi juga menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam menilai informasi dan keluaran yang dihasilkan oleh AI secara kritis. Teknologi AI dapat membantu menghasilkan informasi dengan cepat, tetapi hasil yang diberikan tetap perlu diperiksa, dipahami konteksnya, serta dikaji kembali kebenaran dan relevansinya.
Aspek etika, sosial, dan privasi juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. Mahasiswa diperkenalkan pada berbagai persoalan yang dapat muncul dalam penggunaan AI, seperti keamanan data, privasi, keadilan, bias, transparansi, dan tanggung jawab. Penggunaan AI, menurut materi yang disampaikan, perlu tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan lingkungan sosial.
Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana AI dipandang dari perspektif nilai-nilai kemanusiaan dan aspek emosional. Mahasiswa diingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak seharusnya menghilangkan pertimbangan terhadap kebutuhan, hak, nilai, dan kepentingan manusia.
Dalam seminar tersebut, Dedy juga mengenalkan AI Competency Framework for Students yang dikembangkan UNESCO sebagai salah satu kerangka kompetensi untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi warga yang bertanggung jawab dan kreatif di era AI. Kerangka tersebut mencakup empat area kompetensi utama.
Pertama, Human-Centred Mindset, yaitu kemampuan untuk menempatkan manusia, kebutuhan, nilai, hak, dan kepentingan manusia sebagai pertimbangan dalam penggunaan maupun pengembangan AI.
Kedua, Ethics of AI, yang mencakup pemahaman terhadap berbagai persoalan etika dalam AI, termasuk privasi, keamanan, keadilan, bias, transparansi, serta tanggung jawab dalam penggunaannya.
Ketiga, AI Techniques & Applications, yaitu pemahaman mengenai teknik dasar AI, berbagai bentuk penerapannya, peluang yang ditawarkan, serta keterbatasan teknologi tersebut.
Keempat, AI System Design, yakni pemahaman mengenai prinsip-prinsip perancangan sistem AI dengan mempertimbangkan tujuan, kebutuhan manusia, konteks penggunaan, serta prinsip penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Melalui materi tersebut, mahasiswa LITERA 2026 mendapatkan perspektif bahwa perkembangan AI perlu diikuti dengan kemampuan literasi yang memadai. Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan berbagai aplikasi berbasis AI, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan mempertanggungjawabkan penggunaannya.
Pada akhirnya, inti pesan yang disampaikan dalam seminar adalah bahwa literasi AI merupakan kemampuan untuk memahami, menilai, menggunakan, dan merespons teknologi AI secara kritis, kreatif, etis, serta tetap berpusat pada manusia. Pemahaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi dalam menghadapi perkembangan teknologi sekaligus menjalankan perannya sebagai calon profesional informasi di era kecerdasan buatan.





